Memperkirakan Berapa Lama Riau dapat Bertahan dengan Kualitas Udara Buruk

kebakaran hutan perlu mendapat perhatian penuh

Beberapa minggu terakhir, kualitas udara di pulau Sumatra, terutama daerah Pekanbaru, Riau semakin memburuk. Hal ini merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi secara beruntun di Sumatra bagian Barat tersebut. Akibat kabut asap ini, masyarakat Pekanbaru mulai mengalami sesak napas. Tak hanya mengakibatkan sesak napas, kabut asap juga membatasi jarak pandang pengendara kendaraan bermotor sehingga sangat berbahaya.

Diketahui dari berbagai sumber, kualitas udara di daerah Pekanbaru saat ini berada dalam kategori “berbahaya”. Hal ini terlihat dari tampilan alat Air Quality Monitoring Systems (AQMS) yang menunjukkan parameter kualitas udara secara realtime. Meskipun untuk menyatakan kualitas udara suatu kota yang sesungguhnya harus didasarkan pada kualitas data rata-rata harian dan tahunan, namun bedasarkan data beberapa hari terakhir, index kualitas udara di Pekanbaru Riau selalu berada di atas 350, alias sangat berbahaya.

kabut asap di riau september 2019

Untuk membaca index kualitas udara di alat Air Quality Monitoring Systems, kita harus terlebih dahulu mengetahui kategori dalam alat tersebut. Ada empat jenis kategori dalam alat AQMS yang sudah diakui saat ini, yaitu kualitas udara di level baik disebutkan dimulai di angka 0-50 mikron, kualitas udara sedang di angka 50-150 mikron, kualitas udara tidak sehat di angka 150-250 mikron, kualitas udara sangat tidak sehat di angka 250-350 mikron, dan kualitas udara berbahaya berada di angka lebih dari 350 mikron.

Kualitas udara pada rentang 0-50 mikron alias baik tidak memberikan efek bagi manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan. Kemudian, kualitas udara dalam rentang 51-100 mikron alias sedang, memiliki pengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif. Kualitas udara dalam rentang 101-199 mikron biasanya bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan dan bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan. Kualitas udara dalam rentang 200-299 mikron, dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Sementara, kualitas udara pada rentang lebih dari 300 mikron, sangat berbahaya dan secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius.

kualitas udara beberapa kota di indonesia

Riau memang dikenal sebagai salah satu wilayah yang selalu memiliki index kualitas udara tinggi alias berbahaya. Hal ini tampaknya merupakan salah satu akibat dari seringnya terjadi kebakaran hutan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Riau memiliki setidaknya sekitar 150 titik panas yang harus dijinakkan setiap terjadi kebakaran hutan. Selain itu kebakaran di Riau juga menjadi salah satu kebakaran hutan terluas di Indonesia sepanjang tahun 2019.

Perlu diketahui bahwa dengan tingkat polusi udara yang mencapai level “berbahaya”, penyakit paru-paru terutama ISPA (Infeksi Saluran Penapasan Akut) dapat menjangkiti masyarakat hanya dalam beberapa hari. Selain itu, penyakit lain seperti pneumonia, iritasi mata, iritasi kulit dan asma juga menjadi ancaman berbahaya yang harus dihindari. Hal ini diperparah dengan tingginya tingkat CO2 dari hasil pemanasan global yang menyebabkan polusi sulit untuk dibersihkan. Jika sudah begini tentunya penggunaan masker saja tidak dapat membantu banyak. Oleh sebab itu maka perlu kerjasama dan penanganan serius dari pemerintah untuk mengatasi hal ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX5A2BCBA2A07B1